Klinik Satelit Kini Semakin Dekat dengan Jemaah Haji Indonesia

TUH KJRI Jeddah (Makkah) — Upaya peningkatan layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia terus diperkuat. Tahun ini, Pusat Kesehatan Haji Kementerian Agama Republik Indonesia bersama para petugas kesehatan haji menjalin kolaborasi pelayanan dengan Saudi German Hospital di Makkah guna menghadirkan layanan kesehatan yang lebih cepat, dekat, dan responsif bagi jemaah di Tanah Suci.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari transformasi pelayanan kesehatan haji yang kini lebih mengedepankan penanganan langsung di sektor pemondokan jemaah melalui penguatan Klinik Satelit dan layanan Mobile Clinic.

Dokter Sektor 7 Daker Makkah, dr. Ulii, 

Wakil Kementerian Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak menjelaskan bahwa isu kesehatan masih menjadi salah satu tantangan utama dalam penyelenggaraan ibadah haji Indonesia setiap tahunnya. Hal tersebut mengingat sekitar 25 persen jemaah haji Indonesia merupakan lansia dan sekitar 177 ribu jemaah masuk kategori risiko tinggi (risti) dari sisi kesehatan.

“Isu kesehatan haji adalah isu utama haji dari tahun mengingat 25 persen jemaah haji adalah lansia. Dan 177 ribu orang jemaah adalah jemaah resiko tinggi dari sisi kesehatan, oleh sebab itu model pelayanan kesehatan harus banyak berubah. Dan kami akan memaksimalkan keberadaan Klinik Satelit di sektor-sektor dan juga mobile Clinic di Armuzna untuk melayani dan mengawasi kesehatan jemaah Haji,” jelas Dahnil Anzar Simanjuntak.

Klinik Satelit Diperkuat di Setiap Sektor
Dalam sistem layanan kesehatan tahun ini, setiap sektor akan diperkuat dengan empat Klinik Satelit yang tersebar di area pemondokan jemaah. Adapun area di Sektor 7, layanan kesehatan akan menjangkau 17 hotel tempat jemaah Indonesia menginap.

Selain keberadaan Klinik Satelit, setiap hotel juga akan didampingi petugas kesehatan haji serta dokter kloter yang menjadi garda terdepan dalam pemantauan kondisi kesehatan jemaah.

Menurut dokter spesialis di sektor 7 daerah kerja Mekkah dr. Ulii, dokter kloter memiliki peran penting dalam melakukan penilaian awal apabila terdapat jemaah yang mengalami keluhan kesehatan.

“Kalau ada jemaah sakit, penanganan pertama dilakukan oleh dokter kloter. Nanti dinilai apakah cukup ditangani di kloter atau perlu penanganan lanjutan,” ujarnya.

Apabila memerlukan tindak lanjut, dokter kloter akan berkonsultasi dengan dokter sektor, termasuk dokter spesialis yang bertugas di sektor maupun di KKHI. 

Alur Penanganan Jemaah Sakit
Dr. Ulii menjelaskan bahwa sistem pelayanan kesehatan tahun ini dirancang lebih terstruktur dan terintegrasi agar penanganan jemaah bisa dilakukan lebih cepat sesuai kebutuhan medis.

Alur penanganan jemaah sakit dimulai dari pemeriksaan oleh dokter kloter. Jika diperlukan penanganan lebih lanjut, pasien akan dikonsultasikan kepada dokter sektor dan dokter spesialis KKHI. Selanjutnya, apabila kondisi membutuhkan perawatan lanjutan, jemaah akan dirujuk langsung ke rumah sakit di Arab Saudi, termasuk Saudi German Hospital yang tahun ini menjadi mitra pelayanan kesehatan haji Indonesia.

“Kalau memang perlu dirujuk, maka akan langsung dirujuk ke rumah sakit. Tahun ini kita bekerja sama dengan Saudi German Hospital untuk memperkuat pelayanan kesehatan jemaah,” terang dr. Ulii.

Konsul Jenderal Republik Indonesia, Yusron Ambary juga menjelaskan bahwa tahun ini terdapat perubahan regulasi dari pemerintah Arab Saudi terkait fungsi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI).

“Tahun lalu, sebagian besar jemaah sakit dikumpulkan di KKHI untuk dirawat. Namun tahun ini ada aturan baru bahwa KKHI tidak lagi diperbolehkan merawat pasien secara inap. Penanganan emergency tetap bisa dilakukan di KKHI, tetapi untuk perawatan lanjutan akan langsung dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.

Klinik Satelit Telah Kantongi Izin Pemerintah Arab Saudi

Dr. Ulii menambahkan bahwa Klinik Satelit yang digunakan dalam pelayanan kesehatan jemaah tahun ini telah mendapatkan izin resmi dari pemerintah Arab Saudi sehingga operasional pelayanan dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kehadiran Klinik Satelit diharapkan mampu mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada jemaah, khususnya lansia dan jemaah risiko tinggi, tanpa harus menunggu kondisi memburuk terlebih dahulu.

Selain pelayanan aktif, tim kesehatan sektor juga akan melakukan visitasi rutin ke hotel-hotel jemaah untuk memantau kondisi kesehatan, termasuk kepada jemaah yang tidak memiliki keluhan sekalipun.

Fasilitas Klinik Satelit

Untuk mendukung pelayanan kesehatan di sektor, setiap Klinik Satelit dilengkapi berbagai fasilitas dasar penanganan medis, di antaranya:

  • Tempat tidur pasien pria
  • Tempat tidur pasien wanita dengan pembatas
  • Oksigen
  • Dokter dan perawat jaga
  • Peralatan kesehatan dan perlengkapan medis
  • Obat-obatan dasar

Dengan penguatan layanan ini, pemerintah berharap jemaah haji Indonesia dapat memperoleh akses kesehatan yang lebih mudah, cepat, dan aman selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Melalui kolaborasi bersama mitra rumah sakit Arab Saudi serta penguatan Klinik Satelit dan Mobile Clinic di Armuzna, pelayanan kesehatan haji diharapkan semakin adaptif terhadap kebutuhan jemaah dan mampu mendukung pelaksanaan ibadah haji yang aman, nyaman, dan sehat hingga kembali ke Tanah Air.

اترك تعليقاً

لن يتم نشر عنوان بريدك الإلكتروني. الحقول الإلزامية مشار إليها بـ *