Panduan Sa’i Sesuai Tuntunan Syariat: Memahami Tata Cara dan Makna Perjalanan antara Shafa dan Marwah

TUH KJRI Jeddah (Makkah) — Sa’i merupakan salah satu rukun haji dan umrah yang wajib dilaksanakan oleh setiap jemaah. Ibadah ini dilakukan dengan berjalan kaki atau menggunakan alat bantu dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan setelah menyelesaikan tawaf.

Selain menjadi bagian penting dalam rangkaian ibadah, sa’i juga mengandung nilai sejarah dan keteladanan yang mendalam dari perjuangan Sayyidah Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, ketika mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS.

Perjalanan penuh keimanan dan tawakal tersebut kemudian diabadikan Allah SWT sebagai salah satu syiar dalam ibadah haji dan umrah yang dilaksanakan oleh umat Islam hingga saat ini.

Memulai Sa’i dari Bukit Shafa

Sa’i dimulai dari Bukit Shafa dan diakhiri di Bukit Marwah. Ketika tiba di Shafa, jemaah dianjurkan menghadap Ka’bah, bertakbir, bertahlil, dan berdoa kepada Allah SWT sebelum memulai perjalanan.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…” (QS. Al-Baqarah: 158)

Dari Shafa menuju Marwah dihitung satu kali perjalanan. Sedangkan perjalanan kembali dari Marwah menuju Shafa dihitung satu kali perjalanan berikutnya.

Dengan demikian, tujuh kali perjalanan akan berakhir di Bukit Marwah.

Berjalan dengan Tenang dan Tertib

Selama melaksanakan sa’i, jemaah dianjurkan untuk berjalan dengan tenang, memperbanyak zikir, doa, membaca Al-Qur’an, maupun bershalawat sesuai kemampuan masing-masing.

Bagi jemaah laki-laki, dianjurkan untuk berlari-lari kecil (raml) di area yang ditandai lampu hijau. Sementara bagi jemaah perempuan tidak disunnahkan melakukan lari kecil dan tetap berjalan seperti biasa.

Jemaah juga diimbau untuk tidak saling mendahului secara berlebihan, tidak mendorong sesama jemaah, serta tetap menjaga keselamatan diri mengingat padatnya aktivitas ibadah di area Mas’a.

Ketentuan bagi Lansia dan Jemaah Disabilitas

Islam memberikan kemudahan bagi setiap umatnya dalam beribadah. Oleh karena itu, jemaah lansia, jemaah disabilitas, maupun jemaah dengan kondisi kesehatan tertentu diperbolehkan melaksanakan sa’i menggunakan kursi roda atau alat bantu lainnya.

Yang terpenting adalah seluruh rangkaian sa’i tetap dilakukan sesuai urutan dan jumlah perjalanan yang telah ditentukan.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Sa’i

Petugas Bimbingan Ibadah mengingatkan beberapa hal yang perlu diperhatikan jemaah saat melaksanakan sa’i, antara lain:

  • Memastikan sa’i dimulai dari Bukit Shafa dan diakhiri di Bukit Marwah.
  • Menghitung jumlah perjalanan dengan benar sebanyak tujuh kali.
  • Tidak terburu-buru hingga membahayakan diri sendiri maupun jemaah lain.
  • Tetap menjaga adab, kesabaran, dan ketertiban selama berada di area sa’i.
  • Memperhatikan kondisi kesehatan dan beristirahat apabila diperlukan.

Mengambil Hikmah dari Perjalanan Sa’i

Lebih dari sekadar perjalanan fisik, sa’i mengajarkan tentang kesabaran, ikhtiar, dan keyakinan kepada Allah SWT.

Perjuangan Sayyidah Hajar yang terus berusaha mencari pertolongan tanpa berputus asa menjadi pelajaran berharga bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan penuh keimanan akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

Melalui pelaksanaan sa’i, jemaah diajak untuk merefleksikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari sekaligus memperkuat keimanan selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Semoga seluruh Jemaah Haji Indonesia diberikan kemudahan dalam melaksanakan sa’i, menerima setiap amal ibadah yang dilakukan, serta memperoleh haji dan umrah yang mabrur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *