
Makkah (TUH KJRI Jeddah) — Pelayanan kesehatan menjadi salah satu aspek vital dalam penyelenggaraan ibadah haji, mengingat tingginya aktivitas fisik jemaah serta dominasi jemaah lanjut usia dan risiko tinggi (risti). Untuk memastikan jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman, TenagaKesehatan Haji Indonesia (TKHI) disiagakan di berbagai titik layanan mulai dari sektor, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI), hingga kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Pelaksana Pusat Kesehatan Haji Indonesia (PKHI), Dr. Dani, menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan haji menerapkan sistem rujukan berjenjang agar setiap jemaah mendapatkan penanganan yang cepat dan sesuai dengan kondisi kesehatannya.
“Pelayanan kesehatan di KKHI pada prinsipnya menerima rujukan dari sektor. Jemaah yang mengalami gangguan kesehatan akan diperiksa terlebih dahulu di sektor oleh dokter dan perawat kloter. Apabila memerlukan penanganan lanjutan, mereka akan dirujuk ke KKHI untuk dilakukan observasi dan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Dr. Dani.
Menurutnya, di Instalasi Gawat Darurat (IGD) KKHI, pasien akan menjalani observasi medis untuk menentukan apakah kondisi tersebut masih dapat ditangani di KKHI atau harus dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi.
“Misalnya kasus serangan jantung, infeksi saluran pernapasan berat, atau kondisi lain yang membutuhkan fasilitas medis lebih lengkap, maka akan dirujuk ke rumah sakit rujukan seperti Saudi German Hospital. Namun sebelum itu dilakukan observasi dan penanganan awal di KKHI,” jelasnya.
Selain layanan di KKHI, petugas kesehatan kloter juga berperan penting dalam menjaga kondisi kesehatan jemaah. Setiap dokter dan perawat kloter bertanggung jawab mendampingi sekitar 400 jemaah dari kelompok terbang masing-masing.
Mereka tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan saat jemaah sakit, tetapi juga aktif melakukan visitasi ke kamar-kamar jemaah untuk memantau kondisi kesehatan, khususnya lansia dan jemaah risiko tinggi.
Untuk mendukung layanan tersebut, sekitar 200 petugas kesehatan haji diterjunkan dan disebar ke berbagai sektor pelayanan di Arab Saudi.
Saat fase puncak haji di Armuzna, sistem pelayanan kesehatan diperkuat melalui klinik-klinik kesehatan yang berada di kawasan markaz Arafah. Klinik tersebut diawasi oleh petugas kesehatan kloter dengan dukungan petugas KKHI yang siap memberikan bantuan apabila diperlukan penanganan lanjutan.
“Di Arafah terdapat klinik markaz yang diawasi petugas kesehatan kloter. Apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut, petugas KKHI akan membantu melakukan intervensi medis sesuai kebutuhan,” kata Dr. Dani.
Sementara di Mina, pola pelayanan kesehatan dilakukan secara lebih dinamis. Selain bertugas di pos kesehatan, petugas kesehatan juga disebar ke berbagai maktab dan titik pergerakan jemaah untuk membantu pelayanan langsung di lapangan.
Karena keterbatasan ruang pada pos kesehatan di Mina, sebagian petugas melakukan patroli kesehatan dan membantu petugas kloter dalam memantau kondisi jemaah yang berada di tenda-tenda pemondokan.
Untuk mendukung pelayanan kegawatdaruratan, PPIH Arab Saudi juga menyiapkan 10 unit ambulans yang disiagakan di kawasan Arafah dan Mina.
Menurut Dr. Dani, ambulans tersebut berfungsi sebagai armada evakuasi cepat apabila terdapat laporan jemaah yang mengalami gangguan kesehatan serius selama pelaksanaan puncak haji.
Selain itu, berbagai posko kesehatan juga ditempatkan di jalur-jalur strategis, termasuk di sekitar kawasan Jamarat dan jalur pergerakan jemaah.
“Apabila ada laporan jemaah sakit di sekitar Jamarat, petugas akan segera melakukan koordinasi. Jemaah dapat dibantu menggunakan kursi roda menuju titik ambulans terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” jelasnya.
Melalui sistem pelayanan yang terintegrasi mulai dari kloter, sektor, KKHI, hingga rumah sakit rujukan Arab Saudi, pemerintah terus berupaya memastikan seluruh Jemaah Haji Indonesia mendapatkan layanan kesehatan yang cepat, mudah diakses, dan berkualitas selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
PPIH Arab Saudi mengimbau seluruh jemaah untuk menjaga kondisi kesehatan, memperbanyak minum air putih, tidak memaksakan diri beraktivitas berlebihan, serta segera melapor kepada petugas apabila mengalami keluhan kesehatan.
Dengan dukungan ratusan tenaga kesehatan yang bertugas selama 24 jam, diharapkan seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan kembali ke Tanah Air dalam keadaan sehat serta memperoleh haji yang mabrur.

